Langsung ke isi Sejarah
Sejarah Sejarah OrganisasiSejarah PMII
Sejarah Organisasi

Sejarah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

Sejarah PMII

Sejarah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tidak dapat dipisahkan dari dinamika kehidupan mahasiswa dan perkembangan sosial-politik Indonesia pada dekade 1950-an. Pada masa tersebut, mahasiswa tidak hanya menjadi bagian dari lingkungan akademik, tetapi juga terlibat dalam berbagai pergulatan pemikiran, kehidupan keagamaan, serta persoalan kebangsaan.

Di tengah perkembangan tersebut, mahasiswa Nahdliyin menghadapi kebutuhan akan sebuah wadah yang mampu mengakomodasi karakter, tradisi keislaman, serta aspirasi mereka sebagai mahasiswa. Kebutuhan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah proses panjang yang melibatkan berbagai tokoh, organisasi, dan forum mahasiswa hingga akhirnya melahirkan PMII pada tahun 1960.

Karena itu, kelahiran PMII bukanlah sebuah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan hasil dari proses sejarah yang tumbuh dari dinamika mahasiswa Nahdliyin, perkembangan organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan, serta situasi sosial-politik Indonesia pada zamannya.


Terakhir diperbarui: 24 September 2026
Cikal Bakal

Gagasan mengenai pembentukan organisasi khusus bagi mahasiswa Nahdliyin telah muncul sebelum berdirinya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 1960. Pada masa itu, mahasiswa Nahdliyin masih banyak berada dalam wadah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang berdiri pada 1954. Seiring bertambahnya jumlah anggota IPNU yang telah berstatus mahasiswa, muncul kebutuhan untuk memiliki wadah yang secara khusus dapat menampung kehidupan dan aktivitas mahasiswa.

Upaya membentuk organisasi mahasiswa Nahdlatul Ulama kemudian muncul dalam bentuk organisasi-organisasi lokal. Di Jakarta, pada Desember 1955, sejumlah aktivis menggagas pembentukan Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (IMANU). Pada tahun yang sama juga terdapat Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) di Surakarta. Sementara itu, di Bandung muncul Persatuan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (PMNU). Organisasi-organisasi tersebut menunjukkan bahwa gagasan mengenai wadah mahasiswa NU telah berkembang di beberapa kota sebelum PMII berdiri.

Namun, keberadaan organisasi mahasiswa tersebut belum berkembang menjadi satu organisasi mahasiswa NU berskala nasional. Salah satu persoalannya adalah IPNU masih merupakan organisasi yang relatif baru, sehingga terdapat kekhawatiran bahwa pembentukan organisasi mahasiswa tersendiri akan memengaruhi perkembangan IPNU. Selain itu, sejumlah pengurus IPNU pada masa tersebut juga telah berstatus sebagai mahasiswa. Karena pertimbangan tersebut, upaya membentuk organisasi mahasiswa NU belum memperoleh dukungan yang cukup untuk berkembang.

Gagasan tersebut kembali menguat setelah IPNU berkembang. Dalam Muktamar III IPNU di Cirebon pada 27–31 Desember 1958, diputuskan pembentukan Departemen Perguruan Tinggi IPNU yang dipimpin oleh Ismail Makky. Departemen ini dibentuk untuk mewadahi anggota IPNU yang telah berstatus mahasiswa. Dalam sejumlah sumber sejarah PMII, Departemen Perguruan Tinggi IPNU kemudian disebut sebagai salah satu cikal bakal langsung lahirnya PMII.

Pembentukan departemen tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan. Kehidupan mahasiswa dinilai memiliki kebutuhan dan dinamika yang berbeda dengan pelajar. Selain itu, Departemen Perguruan Tinggi IPNU memiliki keterbatasan dalam ruang geraknya karena tidak dapat menjadi anggota Persatuan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), sebuah konfederasi organisasi mahasiswa yang pada masa itu menghimpun organisasi-organisasi mahasiswa.

Perkembangan berikutnya terjadi dalam Konferensi Besar IPNU di Kaliurang, Yogyakarta, 14–17 Maret 1960. Dalam forum tersebut kembali dibahas kebutuhan akan organisasi mahasiswa NU yang berdiri terpisah dari IPNU. Konferensi kemudian memutuskan perlunya membentuk organisasi mahasiswa NU yang terpisah secara struktural dan administratif dari IPNU-IPPNU. Keputusan inilah yang menjadi tahap penting sebelum dilaksanakannya musyawarah mahasiswa NU di Surabaya pada April 1960.

Dengan demikian, sebelum PMII lahir pada April 1960, telah terdapat serangkaian proses kelembagaan dan gagasan: munculnya organisasi mahasiswa NU di sejumlah daerah, pembentukan Departemen Perguruan Tinggi IPNU pada 1958, hingga keputusan Konferensi Besar IPNU pada Maret 1960 untuk membentuk organisasi mahasiswa NU yang berdiri sendiri. Rangkaian inilah yang kemudian mengantarkan pada proses kelahiran PMII.


Situasi Politik dan Kondisi Mahasiswa

Menjelang lahirnya PMII pada 1960, kehidupan politik Indonesia berada dalam situasi yang semakin dinamis. Setelah Pemilihan Umum 1955, Nahdlatul Ulama (NU) tampil sebagai salah satu partai politik besar dan memperoleh 45 kursi DPR. Pada periode tersebut, NU tidak hanya menjalankan aktivitas keagamaan dan sosial, tetapi juga terlibat langsung dalam kehidupan politik nasional.

Keterlibatan NU dalam politik turut memunculkan kebutuhan terhadap kader yang memiliki kemampuan intelektual dan pendidikan tinggi. Dalam sejumlah catatan sejarah PMII, kebutuhan tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting bagi NU untuk memiliki wadah mahasiswa yang mampu menghimpun dan mengembangkan mahasiswa Nahdliyin. Pada masa itu, sebagian kebutuhan kader intelektual NU masih dipenuhi melalui individu-individu yang kemudian didekatkan dengan lingkungan NU.

Di lingkungan mahasiswa sendiri telah berkembang berbagai organisasi dengan latar belakang keagamaan dan politik yang berbeda. Salah satunya adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang telah berdiri sejak 1947 dan berkembang menjadi salah satu organisasi mahasiswa Islam penting pada masa tersebut. Dalam sejumlah catatan sejarah PMII, sebagian mahasiswa Nahdliyin yang sebelumnya berada di lingkungan HMI kemudian melihat perlunya wadah tersendiri bagi mahasiswa yang memiliki latar belakang NU dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

Hubungan HMI dengan Masyumi juga menjadi bagian dari konteks yang dicatat dalam sejumlah sumber sejarah PMII. NU sendiri sebelumnya merupakan bagian dari Masyumi, tetapi kemudian keluar dan menjadi partai politik sendiri pada 1952. Perkembangan tersebut turut memengaruhi orientasi politik organisasi-organisasi mahasiswa yang berada dalam lingkungan politik Islam pada masa itu.

Selain persoalan hubungan antarorganisasi, situasi politik nasional juga mengalami perubahan besar setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang mengakhiri periode Demokrasi Parlementer dan membawa Indonesia memasuki masa Demokrasi Terpimpin. Kehidupan politik semakin kuat memengaruhi berbagai organisasi sosial dan kemahasiswaan. Catatan sejarah PMII menggambarkan periode tersebut sebagai masa ketika politik memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan organisasi mahasiswa.

Dalam kondisi tersebut, mahasiswa Nahdliyin menghadapi persoalan ganda. Di satu sisi, mereka membutuhkan ruang yang sesuai dengan latar belakang keislaman dan tradisi intelektualnya. Di sisi lain, wadah yang tersedia melalui Departemen Perguruan Tinggi IPNU memiliki keterbatasan. Departemen tersebut tidak memiliki kedudukan yang sama dengan organisasi mahasiswa yang dapat bergabung dalam Persatuan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI). Perbedaan kebutuhan antara pelajar dan mahasiswa juga menjadi salah satu alasan munculnya gagasan untuk membentuk organisasi mahasiswa yang berdiri secara lebih khusus.

Dengan demikian, menjelang 1960 terdapat beberapa kondisi yang berjalan secara bersamaan: NU sedang memainkan peran penting sebagai partai politik, kebutuhan terhadap kader intelektual semakin besar, organisasi mahasiswa telah berkembang dengan latar belakang yang beragam, dan wadah mahasiswa Nahdliyin yang ada belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam konteks inilah gagasan untuk membentuk organisasi mahasiswa NU yang berdiri sendiri semakin menguat dan kemudian berlanjut pada proses kelahiran PMII pada April 1960.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir dari kebutuhan mahasiswa Nahdliyin akan sebuah wadah yang mampu menjadi ruang perjuangan, pengembangan intelektual, dan pengorganisasian mahasiswa Islam. Secara historis, gagasan tersebut tidak terlepas dari keberadaan IPNU-IPPNU. Dalam perkembangannya, Departemen Perguruan Tinggi IPNU menjadi salah satu embrio lahirnya organisasi mahasiswa yang berdiri secara khusus untuk mewadahi mahasiswa Nahdliyin.


Proses Kelahiran

Gagasan untuk membentuk organisasi mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) semakin menguat setelah Konferensi Besar (Konbes) IPNU di Kaliurang, Yogyakarta, pada 14–17 Maret 1960. Dalam forum tersebut, muncul kesepakatan bahwa mahasiswa Nahdliyin membutuhkan wadah tersendiri yang dapat mengakomodasi kebutuhan dan karakter mahasiswa. Dari keputusan tersebut kemudian dibentuk tim yang bertugas mempersiapkan lahirnya organisasi mahasiswa NU.

Proses persiapan tersebut melibatkan 14 orang pendiri (muassis) PMII, yaitu:

  1. Abdullah Alwi Murtadho — Jakarta

  2. Cholid Mawardi — Jakarta

  3. Said Budairy — Jakarta

  4. M. Shobich Ubaid — Jakarta

  5. M. Makmun Syukri — Bandung

  6. Hilman Badrudinsyah — Bandung

  7. H. Ismail Makky — Yogyakarta

  8. Munsif Nachrawi — Yogyakarta

  9. Nuril Huda Suaidy — Surakarta

  10. M. Laily Mansur — Surakarta

  11. Abdul Wahab Jaelani — Semarang

  12. Hisbullah Huda — Surabaya

  13. M. Cholid Marbuko — Malang

  14. Ahmad Husein — Makassar

Pada 19 Maret 1960, tiga orang di antaranya, yaitu Hisbullah Huda, Said Budairy, dan M. Makmun Syukri, menghadap Ketua Umum Partai NU, KH Idham Chalid, di Jakarta. Pertemuan tersebut dilakukan untuk memperoleh arahan mengenai pembentukan organisasi mahasiswa NU. KH Idham Chalid menekankan agar organisasi yang dibentuk mampu menjadi wadah kaderisasi yang menghasilkan mahasiswa berilmu, cakap, bertakwa, serta mampu mengamalkan ilmunya untuk kepentingan masyarakat.

Selanjutnya, pada 14–16 April 1960, dilaksanakan musyawarah mahasiswa Nahdliyin di Surabaya. Pertemuan tersebut berlangsung di lingkungan Perguruan NU Wonokromo. Dalam musyawarah ini disepakati nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi mahasiswa NU sekaligus disusun Peraturan Dasar organisas. Musyawarah tersebut juga menetapkan Mahbub Djunaidi sebagai Ketua Umum pertama, A. Cholid Mawardi sebagai Ketua I, dan M. Said Budairy sebagai Sekretaris Umum. Peraturan Dasar PMII kemudian dinyatakan berlaku pada 17 April 1960, bertepatan dengan 21 Syawal 1379 H. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahir PMII. 

Dengan demikian, proses kelahiran PMII berlangsung melalui rangkaian forum dan persiapan yang dimulai dari keputusan Konbes IPNU di Kaliurang, dilanjutkan dengan persiapan para pendiri, konsultasi dengan KH Idham Chalid, hingga musyawarah mahasiswa Nahdliyin di Surabaya. Rangkaian tersebut kemudian bermuara pada lahirnya PMII pada 17 April 1960 di Surabaya.

Hubungan Struktural

PMII awalnya menjadi bagian dari Badan Keluarga NU berdasarkan SK PB NU tanggal 14 Juni 1960, yang menginduk pada LP Ma'arif NU, salah satu Badan Otonom NU yang bergerak di bidang pendidikan. Pada Muktamar NU ke-23 (1964), PMII diakui sebagain Badan Otonom yang sejajar dengan Badan Otonom lainnya. Badan Otonom NU adalah organisasi non-politik yang memiliki hak mengatur kebijakan sesuai bidangnya, namun tidak boleh bertentangan dengan azas NU. PMII yang berada di bawah koordinasi PB NU memiliki struktur vertikal dari tingkat pusat hingga cabang-cabang di daerah. Setelah diakui sebagai Badan Otonom, PMII  memiliki pengaruh langsung dalam kebijakan NU.

Kongres I PMII (saat itu masih bernama Mu’tamar) pertama diselenggarakan, pada tanggal 23-26 Desember 1961 di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sebuah daerah yang terletak di kaki Gunung Lawu dan berjarak sekitar 42 km dari Kota Solo. Sebanyak 13 Cabang hadir pada acara tersebut, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Ciputat, Malang, Makasar/Ujungpandang, Banjarmasin, Padang, Banda Aceh, dan Cirebon. 

Pada Muktamar I PMII tercatat beberapa poin penting. Pertama, terpilihnya kembali Mahbub Junaidi sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PMII Periode 1961-1963. Proses terpilihnya Mahbub sebagai ketua ini, mungkin ada sedikit kemiripan dengan yang terjadi pada musyawarah mahasiswa NU di Surabaya, setahun sebelumnya. Sebagaimana yang digambarkan oleh M. Said Budairy dalam tulisannya yang berjudul Sudah Benar “PMII Tetap Islam" (Said, 1997) : “Dia (Mahbub) juga tidak mengkampanyekan diri, apalagi sampai mendirikan posko di dekat medan musyawarah. Tapi Mahbub terpilih sebagai ketua umum. Ketua I terpilih Chalid Mawardi dan Sekretaris Umum-nya saya (Said).” 

Poin kedua yang perlu dicatat, yakni lahirnya pokok-pokok pikiran yang diberi nama Deklarasi Tawangmangu. Deklarasi tersebut berisi meliputi pandangan tentang dan sikap PMII terhadap sosialisme Indonesia, pendidikan nasional, kebudayaan nasional dan tanggung jawab PMII sebagai generasi muda islam intelektual yang ikut dalam perjuangan bangsa, pengembangan Islam dan perjuangan akan anti imperialisme dan kolonialisme.


Independensi dan Interdependensi

Hubungan PMII dengan NU mengalami perubahan penting seiring perkembangan politik dan organisasi. Pada awal berdirinya, PMII memiliki hubungan struktural yang erat dengan NU. Namun, keterlibatan NU dalam politik praktis pada masa itu turut memengaruhi ruang gerak PMII sebagai organisasi mahasiswa. Kondisi tersebut kemudian mendorong PMII untuk menegaskan kemandirian organisasi.

Pada 14–16 Juli 1972, melalui Musyawarah Besar yang berlangsung di Murnajati, Lawang, Jawa Timur, PMII menyatakan diri sebagai organisasi yang independen. Keputusan tersebut dikenal sebagai Deklarasi Murnajati. Independensi menegaskan bahwa PMII tidak lagi terikat secara struktural dengan organisasi politik NU dan memiliki kebebasan dalam menentukan arah gerak organisasinya. Keputusan tersebut kemudian ditegaskan kembali dalam Kongres V PMII di Ciloto pada Desember 1973.

Independensi tidak berarti menghilangkan hubungan kesejarahan dan nilai antara PMII dan NU. Setelah NU kembali kepada Khittah 1926 pada 1984 dan tidak lagi menjadi partai politik, hubungan keduanya berkembang dalam bentuk yang berbeda. PMII tetap mempertahankan keterkaitan dengan nilai-nilai keislaman Ahlussunnah wal Jamaah serta tradisi dan sejarah yang menjadi latar belakang kelahirannya.

Hubungan tersebut kemudian ditegaskan melalui Deklarasi Interdependensi PMII–NU dalam Kongres X PMII di Pondok Gede, Jakarta, Oktober 1991. Interdependensi dimaknai sebagai hubungan saling membutuhkan dan saling menguatkan, dengan dasar ikatan kesejarahan, kesamaan paham keagamaan, wawasan kebangsaan, serta kelompok sasaran. Pada saat yang sama, PMII tetap berdiri sebagai organisasi yang memiliki kemandirian dalam menjalankan gerak organisasinya.

Dengan demikian, independensi dan interdependensi bukanlah dua sikap yang saling bertentangan. Independensi menegaskan kemandirian PMII secara struktural dan organisatoris, sedangkan interdependensi menggambarkan hubungan kesejarahan, nilai, dan kerja sama antara PMII dan NU. Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas PMII sebagai organisasi mahasiswa yang tetap memiliki akar sejarah dengan NU sekaligus memiliki ruang untuk menentukan arah geraknya sendiri.

Jejak Perjalanan

  1. 1955

    Awal munculnya organisasi mahasiswa Nahdliyin

    Desember 1955 — Berdiri IMANU (Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama) di Jakarta. Pada tahun yang sama muncul KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama) di Surakarta dan PMNU (Persatuan Mahasiswa Nahdlatul Ulama) di Bandung. Kemunculan organisasi-organisasi lokal ini menunjukkan bahwa gagasan mengenai wadah khusus mahasiswa NU telah muncul sebelum PMII berdiri.

  2. 27–31 Desember 1958

    Departemen Perguruan Tinggi IPNU

    Muktamar III IPNU di Cirebon memutuskan pembentukan Departemen Perguruan Tinggi IPNU, yang dipimpin Ismail Makky. Departemen ini menjadi salah satu embrio langsung lahirnya PMII karena menampung anggota IPNU yang telah berstatus mahasiswa.

  3. 14–17 Maret 1960

    Konbes IPNU di Kaliurang

    Konferensi Besar IPNU di Kaliurang, Yogyakarta membahas kebutuhan organisasi khusus bagi mahasiswa Nahdliyin. Diputuskan bahwa perlu dibentuk organisasi mahasiswa NU yang terpisah secara struktural dan administratif dari IPNU-IPPNU. Dibentuk 14 orang sponsor/pendiri untuk mempersiapkan musyawarah mahasiswa NU.

  4. 19 Maret 1960

    Pertemuan dengan KH Idham Chalid

    Dilaksanakan Musyawarah Mahasiswa Nahdliyin di Wonokromo, Surabaya. Forum ini menyepakati nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Forum juga membentuk kepengurusan awal dengan Mahbub Djunaidi sebagai Ketua Umum, A. Cholid Mawardi sebagai Ketua I, dan M. Said Budairy sebagai Sekretaris Umum.

  5. 17 April 1960

    PMII Resmi Lahir

    Peraturan Dasar PMII mulai berlaku pada 21 Syawal 1379 H / 17 April 1960. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Lahir PMII (Harlah PMII). Kelahiran PMII diproklamasikan di Surabaya setelah musyawarah mahasiswa Nahdliyin.

  6. Mei 1960

    Kepengurusan awal tersusun

    Kepengurusan pusat PMII periode pertama disusun secara lengkap. Setelah itu dilakukan proses pengesahan hubungan organisasi dengan NU.

  7. 8 Juni 1960

    Pengajuan pengesahan kepada PBNU

    PP PMII mengirim surat kepada PBNU untuk memperoleh pengesahan kepengurusan dan organisasi.

  8. 14 Juni 1960

    PMII diakui dalam struktur NU

    PBNU mengeluarkan SK yang mengakui PMII sebagai bagian dari Badan Keluarga NU, yang pada saat itu menginduk pada LP Ma'arif NU. PMII juga mendapat mandat untuk membentuk cabang-cabang di berbagai daerah.

  9. 8–9 September 1960

    Sidang Pleno II

    Sidang Pleno II PP PMII mengesahkan Peraturan Rumah Tangga (PRT). Forum ini juga membahas perangkat organisasi, termasuk lambang PMII, muts/topi, selempang, serta aturan penerimaan anggota yang kemudian berkembang menjadi MAPABA.

  10. 23–26 Desember 1961

    Kongres I PMII

    Kongres/Mu'tamar I berlangsung di Tawangmangu, Jawa Tengah. Dihadiri 13 cabang. Mahbub Djunaidi terpilih kembali sebagai Ketua Umum. Lahir Deklarasi Tawangmangu, yang memuat pandangan PMII mengenai sosialisme Indonesia, pendidikan, kebudayaan, perjuangan bangsa, Islam, serta antiimperialisme dan antikolonialisme.

  11. 25–29 Desember 1963

    Kongres II PMII

    Berlangsung di Kaliurang, Yogyakarta. Diikuti 31 cabang. Menghasilkan Penegasan Yogyakarta serta pokok pikiran mengenai Konferensi Islam Asia Afrika. Mahbub Djunaidi kembali menjadi Ketua Umum.

  12. 1964

    PMII menjadi Badan Otonom NU

    Dalam sumber-sumber sejarah PMII disebut bahwa pada Muktamar NU ke-23, PMII disahkan sebagai salah satu Badan Otonom NU

  13. 7–11 Februari 1967

    Kongres III PMII

    Berlangsung di Malang, Jawa Timur. Kongres tertunda dari rencana Desember 1966 karena situasi nasional. Menghasilkan Memorandum Politik. Dibentuk sejumlah lembaga seperti LPKP, LPP, LDP, dan KOSAD. M. Zamroni terpilih sebagai Ketua Umum.

  14. 25–30 April 1970

    Kongres IV PMII

    Berlangsung di Makassar/Ujung Pandang. Menjadi kongres PMII pertama yang diselenggarakan di luar Jawa. Diikuti sekitar 100 cabang. M. Zamroni kembali terpilih sebagai Ketua Umum.

  15. 14 Juli 1972

    Deklarasi Murnajati

    PMII menyatakan independensi di Murnajati, Lawang, Malang, Jawa Timur. Independensi berarti PMII tidak lagi terikat secara struktural dengan organisasi politik mana pun. Momentum ini menjadi titik perubahan hubungan struktural PMII dengan NU.

  16. Desember 1973

    Kongres V PMII

    Berlangsung di Ciloto, Jawa Barat. Independensi PMII ditegaskan kembali. Struktur organisasi mengalami penyesuaian, termasuk perubahan penyebutan Pucuk Pimpinan menjadi Pengurus Besar (PB) dan Pengurus Wilayah menjadi Koordinator Cabang (Korcab). Pada periode ini mulai dirumuskan kerangka Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) PMII.

  17. 8–12 Oktober 1977

    Kongres VI PMII

    Berlangsung di Jakarta. Menghasilkan program kerja organisasi yang lebih terstruktur. Ahmad Bagja terpilih sebagai Ketua Umum PB PMII.

  18. 1–5 April 1981

    Kongres VII PMII

    Berlangsung di Cibubur, Jakarta. Dihadiri utusan dan peninjau dari 42 cabang dan 9 Korcab. Muhyidin Arubusman terpilih sebagai Ketua Umum.

  19. 16–20 Mei 1985

    Kongres VIII PMII

    Berlangsung di Ciumbuleuit, Bandung. Membahas pendalaman NDP PMII dan penyesuaian AD/ART dengan UU Keormasan. Suryadharma Ali terpilih sebagai Ketua Umum.

  20. 14–19 September 1988

    Kongres IX PMII

    Berlangsung di Surabaya. Salah satu hasil pentingnya adalah perumusan Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII yang kemudian digunakan sebagai salah satu landasan nilai organisasi. M. Iqbal Assegaf terpilih sebagai Ketua Umum.

  21. 27 Oktober 1991

    Deklarasi Interdependensi PMII–NU

    Dalam Kongres X PMII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, PMII menyatakan hubungan interdependensi dengan NU. Hubungan tersebut didasarkan pada ikatan sejarah, kesamaan paham keagamaan, wawasan kebangsaan, dan kesamaan kelompok sasaran. Prinsipnya tetap mempertahankan kedaulatan organisasi dan tidak ada intervensi struktural.

  22. 24 Desember 1991

    Implementasi Interdependensi PMII–NU

    Melalui Musyawarah Kerja Nasional PB PMII di Cimacan, Jawa Barat, dirumuskan implementasi hubungan interdependensi PMII–NU.

  23. 29 Oktober–2 November 1994

    Kongres XI PMII

    Berlangsung di Samarinda, Kalimantan Timur. Menghasilkan penyempurnaan AD/ART, program, dan rekomendasi. A. Muhaimin Iskandar terpilih sebagai Ketua Umum.

  24. 1–5 Desember 1997

    Kongres XII PMII

    Berlangsung di Surabaya. Syaiful Bahri Anshori terpilih sebagai Ketua Umum. Pada periode ini berkembang Paradigma Kritis Transformatif (PKT).

  25. 17–23 November 2000

    Kongres XIII PMII

    Berlangsung di Medan. Nusron Wahid terpilih sebagai Ketua Umum. Salah satu keputusan penting adalah pembubaran KOPRI.

  26. 17–23 April 2003

    Kongres XIV PMII

    Berlangsung di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Malik Haramain terpilih sebagai Ketua Umum. KOPRI kemudian dibentuk kembali melalui tindak lanjut forum perempuan PMII.

  27. 26–29 September 2003

    Forum POKJA Perempuan PMII

    Dilaksanakan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Menjadi bagian dari proses pembentukan kembali KOPRI setelah keputusan Kongres XIV.

  28. 27 Mei–3 Juni 2005

    Kongres XV PMII

    Berlangsung di Cipayung, Bogor. Hery Haryanto Azumi terpilih sebagai Ketua Umum.

  29. 17–23 Maret 2008

    Kongres XVI PMII

    Berlangsung di Batam. M. Rodli Kaelani terpilih sebagai Ketua Umum. Dokumen keputusan AD/ART Kongres XVI ditetapkan pada 24 Maret 2008.

  30. 9–17 Maret 2011

    Kongres XVII PMII

    Berlangsung di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Addin Jauharudin terpilih sebagai Ketua Umum.

  31. 30 Mei–10 Juni 2014

    Kongres XVIII PMII

    Berlangsung di Jambi. Aminuddin Ma'ruf terpilih sebagai Ketua Umum. Dalam kongres ini kembali muncul pembahasan mengenai hubungan PMII dengan NU.

  32. 16–21 Mei 2017

    Kongres XIX PMII

    Berlangsung di Palu, Sulawesi Tengah. Dibuka pada 16 Mei 2017. Agus M. Herlambang terpilih sebagai Ketua Umum.

  33. 17 Maret 2021

    Kongres XX PMII

    Kongres XX berlangsung dalam situasi pandemi COVID-19 dan diselenggarakan dengan sistem yang menyesuaikan protokol kesehatan. Kongres dibuka secara daring oleh Presiden Joko Widodo. Muhammad Abdullah Syukri terpilih sebagai Ketua Umum PB PMII dan Maya Muizzatil Lutfillah sebagai Ketua KOPRI.

  34. 9–15 Agustus 2024

    Kongres XXI PMII

    Berlangsung di Palembang, Sumatera Selatan. Pembukaan dilaksanakan pada 9 Agustus 2024 di Jakabaring Sport City. Kongres XXI menjadi forum tertinggi organisasi untuk membahas keputusan organisasi, rekomendasi, serta pemilihan kepengurusan periode berikutnya.

Dokumentasi Sejarah

Sejumlah peserta menghadiri pembukaan Kongres Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) XXI tahun 2024 di Dining Hall, Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (9/8/2024).
Sejumlah peserta menghadiri pembukaan Kongres Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) XXI tahun 2024 di Dining Hall, Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (9/8/2024).
Presiden Jokowi meresmikan Pembukaan Kongres PMII XX Tahun 2021, Rabu (17/03/2021) pagi,dari Istana Negara, Jakarta.
Presiden Jokowi meresmikan Pembukaan Kongres PMII XX Tahun 2021, Rabu (17/03/2021) pagi,dari Istana Negara, Jakarta.
Presiden RI Joko Widodo membuka Kongres XIX Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa, 16 Mei 2017.
Presiden RI Joko Widodo membuka Kongres XIX Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa, 16 Mei 2017.
Gubernur Jambi Hasan Basri Agus saat menyampaikan sambutaan pada Kongres XVIII Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Jambi, Jumat (30/5).
Gubernur Jambi Hasan Basri Agus saat menyampaikan sambutaan pada Kongres XVIII Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Jambi, Jumat (30/5).
KONGRES XVII PMII - Adien Jauharudin mendapat ucapan selamat dari pendukungnya setelah perolehan suaranya dipastikan mengungguli dua kandidat lainnya, Dwi S dan M Zaki, di asrama haji Banjarmasin Kalimantan Selatan, Kamis (17/3).
KONGRES XVII PMII - Adien Jauharudin mendapat ucapan selamat dari pendukungnya setelah perolehan suaranya dipastikan mengungguli dua kandidat lainnya, Dwi S dan M Zaki, di asrama haji Banjarmasin Kalimantan Selatan, Kamis (17/3).
Bagikan◉

Periode
Riwayat Organisasi
Kontribusi
Biografi