✎ Kirim Tulisan
Warta

Panggung Telas Ria: Gelar Rasa, Gurat Makna, Punakawan ing PMII

Malam itu, halaman Mabna Al-Khawarizmi dipenuhi lebih dari sekadar suara musik dan tepuk tangan. Puisi tentang Palestina, refleksi tentang alam dan leluhur, hingga kisah Ken Arok dan Ken Dedes hadir bergantian dalam Panggung Telas RIA: Gelar Rasa, Gurat Makna, Punakawan ing PMII. Seni menjadi bahasa perjumpaan—menghubungkan rasa, kebudayaan, dan semangat pergerakan dalam satu malam.

Redaksi Radar Aqil 28 Agustus 20264 menit baca36 baca
Panggung Telas Ria: Gelar Rasa, Gurat Makna, Punakawan ing PMII

MALANG — Jumat, 28 Agustus 2026

Kamis malam, 27 Agustus 2026, halaman Mabna Al-Khawarizmi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berubah menjadi ruang pertunjukan. Sejak pukul 20.00 WIB, mahasiswa baru, kader PMII, hingga tamu undangan mulai memenuhi area kegiatan.

Panggung Telas RIA malam itu mempertemukan mahasiswa baru Program Studi Bahasa dan Sastra Arab serta Sastra Inggris dengan Keluarga Besar PMII Rayon “Perjuangan” Ibnu Aqil. Turut hadir tamu undangan dari rayon-rayon se-Hepta PMII Komisariat Sunan Ampel Malang serta sejumlah sahabat dari luar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Tidak banyak seremoni panjang. Selepas sambutan pembuka, panggung segera bergerak melalui musik, puisi, dan pertunjukan tari-teater.

Musik menjadi pembuka yang mencairkan suasana. Penonton yang semula masih sibuk dengan percakapan perlahan memusatkan perhatian ke panggung. Suasana menjadi lebih akrab, sekaligus membuka jarak antara mahasiswa baru dan para kader yang hadir.

Namun, atmosfer malam mulai berubah ketika puisi mengambil ruang.

Dua karya dibacakan dalam panggung tersebut. “Agustusan di Palestina” karya Sosiawan Leak menghadirkan persoalan kemanusiaan di tengah suasana bulan kemerdekaan. Puisi itu membawa penonton pada ironi tentang kebebasan: ketika kemerdekaan dirayakan di satu tempat, di tempat lain masih ada manusia yang hidup di tengah konflik dan penderitaan.

Setelah itu, “Air, Burung, dan Nenek Moyang” karya Iman Soleh menghadirkan nuansa yang berbeda. Puisi tersebut membawa pendengar pada hubungan manusia dengan alam, kehidupan, dan ingatan tentang generasi terdahulu.

Dua puisi itu menjadi ruang jeda di tengah riuh pertunjukan. Kata-kata bekerja dengan caranya sendiri: tidak berteriak, tetapi meninggalkan pertanyaan dan perenungan.

Selepas pembacaan puisi, perhatian penonton beralih pada pertunjukan tari-teater yang mengangkat kisah Ken Arok dan Ken Dedes.

Tari dan teater tidak ditampilkan sebagai dua pertunjukan terpisah, melainkan dirangkai sebagai satu kesatuan. Gerak tubuh, dialog, ekspresi, dan suasana panggung menjadi medium untuk menghidupkan kembali kisah yang telah lama melekat dalam sejarah dan kebudayaan Jawa.

Ken Arok dan Ken Dedes tidak hanya hadir sebagai tokoh masa lalu. Melalui pertunjukan tersebut, kisah mereka kembali mempertemukan penonton dengan persoalan tentang ambisi, kekuasaan, cinta, konflik, dan pilihan manusia.

Sejarah yang biasanya dijumpai melalui teks malam itu hadir dalam bentuk berbeda—lebih dekat, lebih visual, dan lebih hidup.

Rangkaian pertunjukan membuat Panggung Telas RIA bergerak dari satu ruang makna ke ruang lainnya. Palestina membawa persoalan kemanusiaan. “Air, Burung, dan Nenek Moyang” membawa ingatan pada alam dan kehidupan. Sementara kisah Ken Arok dan Ken Dedes membawa penonton menuju sejarah dan kebudayaan Nusantara.

Perpindahan tema tersebut membuat pertunjukan tidak berjalan datar. Ada saat penonton menikmati musik, ada saat mereka diajak diam mendengarkan puisi, dan ada pula saat perhatian tersedot pada gerak dan dramatika panggung.

Seni, dalam konteks itu, tidak hanya menjadi tontonan.

Ia juga menjadi cara untuk menyampaikan gagasan.

Panggung sebagai Ruang Perjumpaan

Kehadiran mahasiswa baru menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi juga berada dalam satu ruang bersama kader PMII, keluarga besar rayon, serta tamu dari berbagai lingkungan.

Melalui suasana semacam itu, Telas RIA menghadirkan cara berbeda dalam memperkenalkan kehidupan organisasi dan pergerakan kepada mahasiswa baru. Bukan melalui ceramah panjang, melainkan lewat pengalaman bersama.

Tajuk “Gelar Rasa, Gurat Makna, Punakawan ing PMII” pun memperoleh konteksnya. Rasa digelar melalui karya, makna digurat melalui pesan yang dibawa setiap pertunjukan, sementara spirit Punakawan menghadirkan kesederhanaan, kebijaksanaan, kritik, dan kedekatan dengan kehidupan masyarakat.

Dalam kehidupan organisasi mahasiswa, gagasan sering kali identik dengan forum, diskusi, atau pidato. Panggung Telas RIA menunjukkan jalan lain.

Keresahan dapat disampaikan melalui puisi.

Sejarah dapat dihidupkan melalui tari dan teater.

Kebersamaan dapat tumbuh melalui musik dan ruang pertunjukan.

Seni dalam Panggung Telas RIA tidak ditempatkan hanya sebagai hiburan. Ia hadir sebagai medium komunikasi, refleksi, dan kebudayaan.

Di situlah pergerakan menemukan wajah yang lebih luas.

Menjelang pukul 23.00 WIB, rangkaian pertunjukan mulai berakhir. Namun, sebagian peserta masih bertahan. Percakapan berlanjut, dokumentasi diabadikan, dan suasana malam belum sepenuhnya usai.

Selama kurang lebih tiga jam, halaman Mabna Al-Khawarizmi menjadi ruang yang mempertemukan manusia dengan seni, sastra, sejarah, dan kebudayaan.

Dari “Agustusan di Palestina”, “Air, Burung, dan Nenek Moyang”, hingga kisah Ken Arok dan Ken Dedes, Panggung Telas RIA meninggalkan lebih dari tepuk tangan.

Ia meninggalkan perjumpaan.

Dan mungkin, juga sejumlah makna yang akan dibawa pulang secara berbeda oleh setiap orang yang hadir.

Sebab malam itu, pergerakan hadir dalam banyak rupa.
Ia hidup melalui musik, puisi, gerak, dan panggung.

Peristiwa: 27 August 2026 Mabna Al-Khawarizmi

♡ 1
Bagikan:◉
Koreksi & Hak Jawab

Baca Berikutnya