Kader Mujahid harus bermujahadah dan berjihad

MALANG — Kamis, 24 September 2026
Mujahid secara bahasa berarti pejuang. Maka, seorang kader yang mendeklarasikan dirinya sebagai mujahid semestinya telah siap untuk diajak berjuang—bukan hanya ketika keadaan sesuai dengan kehendaknya, tetapi juga ketika harus berjalan bersama orang-orang yang berbeda pandangan dengannya.
Sebab, perbedaan adalah keniscayaan. Ia tidak selalu harus diseragamkan, tetapi harus diarahkan. Karena itu, dalam perjuangan bersama, dibutuhkan satu tujuan yang menjadi arah kiblat: cita-cita yang memungkinkan perbedaan langkah tetap bermuara pada tujuan yang sama.
Jika kita menyelam sedikit lebih dalam ke dalam diksi “mujahid” dengan kacamata ilmu sharaf, kita menemukan susunan yang menarik:
جَاهَدَ – يُجَاهِدُ – مُجَاهَدَةً – وَجِهَادًا – فَهُوَ مُجَاهِدٌ
Tentu, secara gramatikal susunan tersebut hanyalah pola tashrif ishtilahi. Tidak ada hierarki makna yang secara mutlak ditetapkan oleh urutannya. Namun, jika kita mencoba membacanya dengan sedikit otak-atik-gatuk, ada sebuah refleksi yang menarik untuk direnungkan.
Kata مُجَاهَدَة (mujāhadah) hadir sebelum جِهَاد (jihād), sementara مُجَاهِد (mujāhid) baru tampak di ujung sebagai isim fā‘il—orang yang melakukan perjuangan.
Mujāhadah secara bahasa berkaitan dengan kesungguhan dalam perjuangan, dan dalam tradisi tasawuf ia sering dipahami sebagai perjuangan batin: pergulatan manusia melawan hawa nafsu, ego, dan berbagai kecenderungan buruk dalam dirinya. Sementara jihād dapat merujuk pada perjuangan di ranah lahiriah.
Dari sini, kita bisa memetik sebuah pelajaran kaderisasi: sebelum seorang kader sibuk berjuang di luar dirinya, ia harus terlebih dahulu belajar berjuang melawan dirinya sendiri.
Sebab, apa gunanya lantang memperjuangkan kebenaran jika ego masih ingin selalu dibenarkan? Apa gunanya berbicara tentang kepentingan bersama jika kepentingan pribadi masih menjadi kiblat utama?
Maka, mujāhadah adalah perjuangan untuk menertibkan diri; jihād adalah perjuangan untuk menegakkan cita-cita. Dan mujāhid adalah mereka yang bersedia menjalani keduanya.
Barangkali, seorang kader baru pantas disebut mujāhid bukan ketika ia paling keras meneriakkan perjuangan, melainkan ketika ia telah selesai berdamai dengan egonya, mampu berjalan bersama perbedaan, lalu mengabdikan tenaganya untuk tujuan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Karena perjuangan yang besar semestinya dimulai dari kemenangan atas diri sendiri.
Peristiwa: 24 September 2026
Muhammad Sulthonus Sholichin
Hanyalah penikmat tulisan namun masih mencari keontetikan tulisan sendiri.
Lihat karya terbit →