Kamus Anomali

KAMUS ANOMALI
Hidup itu anomali, Bung.
Apa aku harus diam
baru dibilang santun?
Apa aku harus tunduk
baru dibilang dewasa?
Apa aku harus lupa
baru dibilang ikhlas?
Kalau kewarasan diukur
dari seberapa patuh kita,
bagaimana nurani belajar berdiri?
Apa aku harus ramai
baru dianggap ada?
Apa aku harus viral
baru dianggap bernilai?
Apa aku harus seragam
baru disebut sejalan?
Kalau perbedaan dianggap kesalahan,
untuk apa Tuhan menciptakan begitu banyak wajah?
Apa adil harus menunggu sidang
untuk disebut adil?
Apa hukum harus memilih nama
sebelum memilih benar?
Apa kuasa harus duduk di kursi tinggi
agar suaranya terdengar?
Kalau keadilan hanya mengenal alamat,
lalu untuk siapa negeri ini dibuat?
Apa aku harus kaya
baru disebut berguna?
Apa aku harus punya jabatan
baru dianggap berjasa?
Apa aku harus punya panggung
baru boleh bicara?
Kalau suara hanya milik mereka yang berkuasa,
mengapa kita dilahirkan dengan mulut yang sama?
Apa sejarah harus dibungkus kemenangan
agar layak dikenang?
Apa ingatan harus dikubur
agar luka terlihat sembuh?
Kalau masa lalu terus dipendam,
siapa yang akan mengajari masa depan?
Apa aku harus membenci
agar dianggap berani?
Apa aku harus membalas
agar disebut kuat?
Kalau kasih kalah oleh dendam,
siapa yang masih percaya kemanusiaan itu nyata?
Sebab hidup memang anomali, Bung.
Sunyi
bukan lawan bunyi.
Luka
tidak selalu berdarah.
Perlawanan
tidak selalu berteriak.
Dan manusia…
tidak selalu kehilangan hidupnya.
Sering kali,
ia lebih dulu kehilangan
kemanusiaannya.
Hidup itu anomali, Bung.
Apa aku harus diam
baru dibilang santun?
Apa aku harus tunduk
baru dibilang dewasa?
Apa aku harus lupa
baru dibilang ikhlas?
Kalau kewarasan diukur
dari seberapa patuh kita,
bagaimana nurani belajar berdiri?
Apa aku harus ramai
baru dianggap ada?
Apa aku harus viral
baru dianggap bernilai?
Apa aku harus seragam
baru disebut sejalan?
Kalau perbedaan dianggap kesalahan,
untuk apa Tuhan menciptakan begitu banyak wajah?
Apa adil harus menunggu sidang
untuk disebut adil?
Apa hukum harus memilih nama
sebelum memilih benar?
Apa kuasa harus duduk di kursi tinggi
agar suaranya terdengar?
Kalau keadilan hanya mengenal alamat,
lalu untuk siapa negeri ini dibuat?
Apa aku harus kaya
baru disebut berguna?
Apa aku harus punya jabatan
baru dianggap berjasa?
Apa aku harus punya panggung
baru boleh bicara?
Kalau suara hanya milik mereka yang berkuasa,
mengapa kita dilahirkan dengan mulut yang sama?
Apa sejarah harus dibungkus kemenangan
agar layak dikenang?
Apa ingatan harus dikubur
agar luka terlihat sembuh?
Kalau masa lalu terus dipendam,
siapa yang akan mengajari masa depan?
Apa aku harus membenci
agar dianggap berani?
Apa aku harus membalas
agar disebut kuat?
Kalau kasih kalah oleh dendam,
siapa yang masih percaya kemanusiaan itu nyata?
Sebab hidup memang anomali, Bung.
Sunyi
bukan lawan bunyi.
Luka
tidak selalu berdarah.
Perlawanan
tidak selalu berteriak.
Dan manusia…
tidak selalu kehilangan hidupnya.
Sering kali,
ia lebih dulu kehilangan
kemanusiaannya.
A
Tentang Penulis
Abdul Ghani Afiq
Abdul Ghani Afiq adalah mahasiswa Sastra Inggris UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Aktif menulis esai, opini, dan kajian seputar sosial, pendidikan, politik, serta gerakan mahasiswa. Baginya, menulis adalah cara merawat nalar, menyuarakan kegelisahan, dan menghadirkan perubahan melalui kata.
Lihat karya terbit →